Mengapa jalan-jalan kita selalu digali lalu diperbaiki, diperbaiki lalu digali lagi, terus berulang tanpa henti?
Saya ceritakan sebuah kisah, Anda akan langsung mengerti. Di Amerika, ada sebuah lampu pijar yang menyala sejak tahun 1901 dan sampai sekarang belum pernah mati.
Padahal perusahaan yang memproduksinya sudah bangkrut lebih dari 90 tahun lalu. Bahkan dalam mimpi pun, perusahaan itu tidak akan menyangka bahwa kualitas lampu yang terlalu bagus justru menjadi alasan kebangkrutan mereka.
Coba lihat ponsel-ponsel terbaik di pasaran saat ini, rata-rata dipakai 2 tahun saja, sudah harus ganti baru.
Karena baik produsen maupun penjualnya tidak berharap barang itu awet seumur hidup. Semakin bagus kualitas suatu barang, semakin cepat pembuatnya bangkrut.
Logikanya sebenarnya sangat sederhana. Kalau tidak ada banyak domba, serigala makan apa? Kalau tidak ada banyak orang miskin, orang kaya, hidup dari mana?
Bagi kalangan atas, sumber keuntungan terbesar di masyarakat ini bukanlah sumber daya terbarukan. Bukan pula minyak, batu bara, atau emas dan perak, melainkan arus orang miskin yang tak pernah habis.
Selanjutnya saya akan ceritakan satu kisah lagi. Jika Anda benar-benar memahaminya, Anda bisa menghemat 10 tahun jalan memutar dalam hidup.
Dahulu kala ada seorang tuan tanah Rumahnya selalu dipenuhi tikus Maka ia memelihara seekor kucing, Kucing ini sangat rajin Hanya dalam satu hari semua tikus di rumah berhasil ditangkap Tiga hari berlalu tidak ada lagi satu pun tikus yang muncul Saat itu sang tuan tanah merasa kucing ini sudah tidak berguna Dipelihara hanya menghabiskan beras saja.
Akhirnya kucing itu dibuang Sebulan kemudian tikus kembali muncul di rumahnya Tuan Tanah itu seperti sebelumnya, memelihara seekor kucing lagi. Namun kucing yang satu ini sangat cerdas.
Sesekali ia menangkap beberapa tikus, tetapi tidak pernah memberantas semuanya. Setiap kali melihat tikus, ia hanya mengeong beberapa kali sebagai formalitas.
Cukup untuk menakuti tikus agar kabur. Akibatnya, sang Tuan Tanah mulai bergantung pada kucing ini dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Karena selama masih ada tikus, kucing ini akan selalu memiliki nilai keberadaan. Sampai di sini, Anda seharusnya sudah paham, manusia terbagi ke dalam berbagai tingkatan dan masyarakat juga terbagi menjadi kelas bawah, menengah, dan atas. Kelas bawah mematuhi aturan, kelas menengah memanfaatkan aturan, sementara kelas atas merekalah aturan itu sendiri.
Di dunia ini, yang paling ampuh bukanlah uang, bukan pula kekuasaan, melainkan sebuah cara berpikir yang cemerlang dalam menghadapi kehidupan itu sendiri.
6 Komentar
Saya jadi curiga dengan yg namanya inovasi, jangan2 itu hanya kedok seperti kucing yg menyisakan mangsa tikusnya agar dia tidak dibuang.
BalasHapusKemungkinan juga mas Liyon... Karena terkadang sesuatu bisa menyebabkan untung2ngan.😁😊
HapusSeperti di negeri antah berantah yang konon katanya kemiskinan dirawat biar tetap ada proyek ya Mas Satria.
BalasHapusNah bisa jadi Huu.😁😊
HapusWaduh !!
BalasHapusAku cari aman ajalah pura pura nggk paham
Biar dia posting terus sampai paham
😁😁😁 boleh ketawa nggk ya ???
Haahaaa bisa aja mbak May ini.😁😂😂
Hapus